GAMBARAN UMUM KAMPUNG MERABU
A. Biogeofisik Kawasan
Flora Fauna
Kawasan karst yang sangat terisolir dan memiliki hutan-hutan lebat yang masih belum dijelajahi secara mendalam, sudah barang tentu merupakan tempat bagi varietas-varietas ataupun jenis mamalia darat, avifauna (burung), amfibi dan reptile, kupu-kupu dan ikhtiofauna (ikan). Pengetahuan masyarakat lokal mengenai tumbuhan dan binatang hutan bermanfaat dalam menyediakan informasi yang bernilai mengenai kebiasaan dan penyebaran terakhir binatang liar yang endemik di kawasan ini ataupun belum diketahui sama sekali. Di duga hutan karst batu kapur yang masih lebat ini menjadi tempat terakhir yang relatif ‘aman’ bagi kehidupan satwa liar. Tidak menutup kemungkinan beberapa spesies baru belum banyak dikenal dan teridentifikasi di daerah gua-gua dan celah batu kapur.
Fisiografi
Formasi geologi yang terdapat di kawasan karst Berau-Kutim didominasi
oleh
struktur geologi alluvium, berikutnya disusun struktur geologi Alluvium,
Basalt, Lime stone, Peat dan Sand Stone. Hasil
dari ilustrasi Peta Rupa Bumi Indonesia
(2003), memperlihatkan topografi kelas kelerengan lahan yang bervariasi
dari Datar (0 – 8 %), Landai (8
– 15 %), Agak Curam (15 – 25 %), Curam (25 – 40 %), hingga Sangat Curam ( >
40 %). Topografi datar banyak dijumpai
di sepanjang sisi tepi sungai dan anak-anak sungainya. Sedangkan topografi
paling ekstrem yaitu curam hingga sangat curam umumnya di hulu sungai di daerah perbukitan batu kapur.
Di Bagian hulu sungai,
banyak dijumpai formasi-formasi
batuan endapan (siltstone), paras (sandstone) dan lempung (claystone) dari zaman kapur. Formasi
batuan zaman kapur ini terlihat jelas dari gua-gua dan batu dinding yang memanjang
membelah membatasi antara perbatasan Berau dan Kutim yang dikenal sebagai Pegunungan
Nyapa, Gunung Onyen,
Gunung pelmuis dan Gunung Kulat. Banyak diantaranya mempunyai nama-nama lokal
dan disebut dalam mitos-mitos penduduk setempat. Hulu-hulu
sungai banyak ditemui menuju gua dan
celah batuan hingga di permukaan bawah.
Tanah
Jenis
tanah yang terdapat di kawasan karst Berau-Kutim bervariasi dari jenis tanah Regosol – Kambisol – Regosol, Kambisol
– Podsolik – Litosol, Kambisol –
Podsolik – Regosol, Podsolik
– Kambisol – Regosol, dan Oksisol – Regosol. Berdasarkan sistem lahan, di wilayah Karts Berau Kutim berturut-turut sistem lahannya yaitu Honja, Pakalunai, Barong Tongkok, Bakunan dan
Tambera. Jenis-jenis tanah tersebut umumnya sensitif terhadap pembukaan
lahan yang ekstrem dan dapat menyebabkan
sedimentasi tinggi.
Tanah
alluvial dari sedimentasi sungai banyak dijumpai pada sepanjang sempadan
sungai-sungai besar yang ada di kawasan ini. Sebagian besar daerah aluvial di
sempadan sungai dipergunakan oleh penduduk untuk kegiatan berladang dan
perkebunan. Sisanya tanah-tanah subur di dataran rendah sebagian besar telah
dikonversi untuk perkebunan kelapa sawit. Ciri penting tanah di derah kawasan
karst ini adalah pH tanah yang tidak terlalu rendah keasamannya sebagaimana
umumnya daerah Kalimantan. Nampaknya formasi batu kapur yang cukup dominan dan mengalami pelapukan secara perlahan
meningkatkan pH tanah dibanyak tempat di dataran rendah melalui sedimentasi dan
resapan air hujan dari perbukitan batu kapur.
Iklim
Karakteristik iklim
dalam kawasan karst Berau-Kutim adalah iklim hutan tropika humida dengan curah hujan yang terjadi
di sepanjang tahun, sehingga terdapat perbedaan yang
tidak begitu tegas antara musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan data BMKG Berau dan
Kutai Timur 2000-2010, curah
hujan rataan di daerah ini berkisar antara 1919 - 2500 mm per tahun dengan
temperatur rata-rata 26oC. Perbedaan temperatur siang dan malam
antara 5-7 oC. Curah hujan tertinggi biasanya terjadi pada bulan
Januari hingga Maret, dan terendah pada Bulan Agustus hingga September.
Sepanjang bulan dalam satu tahun selalu terdapat sekurang-kurangnya tujuh hari
hujan. Semenjak tahun 2005 curah hujan meningkat di sepanjang tahun dan pada
tahun 2008 hingga saat ini sering terjadi air sungai yang meluap menggenangi
perkampungan. Terutama di daerah DAS Karangan, Bengalun dan hilir Kelay.
Saat musim-musim kering dengan curah hujan
yang rendah, dipergunakan oleh penduduk setempat untuk kegiatan pembukaan
perladangan dengan melakukan pembakaran.
Biasanya dilakukan pada akhir Juli hingga awal September. Sedangkan pada musim
curah hujan yang tinggi dan sungai meluap banyak dipergunakan untuk mengeluarkan
kayu-kayu dari tebangan di hulu-hulu sungai untuk dijual pada pembeli di hilir.
B.
Kewilayahan dan Sejarah
Kampung Merabu secara administratif masuk dalam
wilayah Kecamatan Kelay Kabupaten Berau. Sebelum dilakukan pemekaran tahun
2000, kampung ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Sambaliung
Kabupaten Berau karena dahulu masuk dalam wilayah Kesultanan Sambaliung Kabupaten
Berau. Secara
kartografis, batas-batasnya adalah di sebelah Barat berbatasan dengan Kampung
Merapun, Sebelah Timur berbatasan
dengan Wilayah adat Mapulu-Tintang (Desa Karangan Dalam Kabupaten Kutai Timur), sebelah Selatan
berbatasan dengan Kabupaten Kutai Timur, serta di sebelah Utara dengan Kampung
Panaan. Di bagian sebelah Barat berbatas dengan Merapun terdapat perusahaan
kayu PT Utama Damai Indah Timber (UDIT) dan perkebunan kelapa sawit yang luas
di wilayah Merapun yaitu PT Yudha Wahana Abadi, PT Gunta Samba, dan PT
Anugerah.
|
Nama Merabu, konon mulanya adalah Menanga Bu yang
artinya muara sungai Bu karena dahulu lokasi pemukiman tepat di muara Sungai Bu
yang saat ini terletak di hilir kampung. Hulu dari sungai Bu sendiri tidak jauh
dari kampung di daerah yang disebut Sedepan Bu. Menurut sejarahnya, leluhur
orang Merabu dahulu bermukim di gua-gua di hulu sungai. Lokasi pemukiman yang
paling dikenal yaitu Gunung Kulat yang berbatasan dengan hulu Sungai Bengalun
di perbatasan Berau-Kutai Timur. Dari Gunung Kulat mereka berpindah menyebar di
bagian tengah Sungai Lesan antara lain ke Tukan Canong, kemudian berpindah lagi
ke Beteran, lalu ke Muara Bu dan terakhir di Merabu hingga saat ini.
Luas kampung Merabu lebih kurang 12,000 ha, dan secara topografi
terdiri dari kawasan dataran rendah di sempadan Sungai Lesan dan perbukitan
batu kapur (karts) di bagian hulu anak Sungai Lesan. Di celah-celah antara
gunung-gunung batu kapur (karst) ditemukan lembah yang disebut penduduk setempat sebagai laruk dan rawa-rawa yang disebut pesu. Gua-gua di pegunungan batu kapur
di Merabu selain dikenal dengan hasil sarang burung walet juga ditemukan
beberapa peninggalan prasejarah berupa gambar-gambar di dinding gua dan kubur
batu.
C.
Dayak Lebo
Nama Dayak Lebo, atau sering juga disebut Labu atau Lebu
merupakan sebutan yang umum untuk menyebutkan jati diri mereka dari kelompok
masyarakat Dayak Basap yang bermukim di hulu Lesan, Inaran, dan Karangan.
Mereka menyebutkan identitas sebagai dayak lebbo, yang dianggap berbeda dari
kelompok basap lain karena selain memiliki latar belakang sejarah dan bahasa
yang berbeda, juga mereka dianggap lebih maju dibandingkan kelompok-kelompok
yang disebutkan sebagai Dayak Basap. Mereka
telah mengenal pemukiman permanen dan tidak tinggal di gua-gua, mereka juga
mengenal kesenian dan pakaian serta adat istiadat lain yang dimiliki masyarakat
Melayu Berau dan Kutai.
Sebutan Dayak Lebbo berasal dari kata leppo atau lepau
yang berarti pondok, rumah atau kampung. Kelihatannya mereka mengenal budaya
tinggal menetap di pondok berkampung secara kolektif dari asimilasi dengan
kelompok-kelompok dayak lain seperti Wehea dan Gaay yang berdekatan dengan
pemukiman mereka. Dugaan lainnya yaitu asimilasi dengan kelompok-kelompok
pengembara, prajurit dan tawanan perang dari berbagai kelompok suku yang
menjadi bawahan dari bangsawan Kesultanan Berau dan Kutai yang ditempatkan
dihulu-hulu sungai untuk menjaga gua sarang burung. Akibat kontrol kekuasan
yang hilang setelah takluknya Kesultanan Berau (Sambaliung dan Gunung Tabur)
serta Kesultanan Kutai ke tangan Belanda, mengakibatkan kelompok-kelompok
tersebut terpisah dan membentuk komunitas tersendiri yang kemudian dikenal
sebagai orang Dayak Basap maupun Lebbo.
Masyarakat Dayak Lebo Kampung Merabu tengah
berladang
Bagi kalangan orang Dayak Lebbo sendiri, sebutan sebagai
orang Dayak Lebbo dianggap lebih memiliki makna yang lebih ‘manusiawi’
dibandingkan sebutan sebagai Dayak Baasap. Di kalangan orang Melayu Berau dan
Kutai, sebutan sebagai orang Baasap konotasinya
merendahkan dari para penghuni hutan di hulu-hulu sungai. Sebutan Basap identik
dengan primitif, liar dan tidak berkampung dan hanya dijumpai di gua-gua
sebagai pemukiman mereka. Orang-orang Melayu Kutai di pesisir Sangkulirang
memiliki sebutan yang lebih netral dengan menyebut kelompok-kelompok masyarakat
yang masih menetap di hulu sungai tersebut sebagai orang darat.
Menurut sejarahnya, banyak
penutur dikalangan orang dayak Lebbo ini yang menyebutkan bahwa asal mereka
dari Gunung Kulat di perbatasan Selatan Berau dengan Kutai. Setelah kekacauan
akibat perang antara suku mulai mereda, mereka menyebar di dataran rendah di
tepi hulu tepi sungai Lesan, Bengalun, Karangan dan Pengadan. Kelompok-kelompok
dayak Basap yang menyebutkan diri sebagai Dayak Lebbo ini komunitasnya di
Kabupaten Berau ditemui di Merapun, Merabu, Mapulu, Panaan, dan Meliyu. Di
Kabupaten Kutai Timur di temui di Pemukiman KAT Karangan Seberang dan Muara
Bulan (Baay). Di Tepian Langsat sendiri,
karena mereka telah lama berbaur dengan kelompok Melayu Kutai, tidak
lagi disebut sebagai Dayak Lebbo atau Dayak Basap. Mereka telah menjadi orang
Kutai. Demikian juga dengan di Keraitan, Tebangan Lembak dan Sekurau, akibat
hegemoni sebutan Dayak Basap terlanjur melekat ke diri mereka sebutan sebagai
Dayak Basap lebih dominan dibandingkan sebagai Dayak Lebbo meskipun telah lama
pula mengenal pemukiman permanen dipondok-pondok ladang.
Masyarakat di kampung Merabu yang merupakan bagian
dari masyarakat Dayak Lebbo, masih memiliki hubungan sosial dan budaya yang
erat dengan lingkungan sumberdaya alam di sekitarnya. Terkait dengan sumberdaya
hutan, masyarakat meyakini bahwa segala
jenis sumberdaya alam dan hutan harus di manfaatkan secara arif dan bijaksana. Pemanfaatannya dilakukan seperlunya dengan
mempertimbangkan manfaat untuk generasi selanjutnya. Aturan-aturan adat dalam pengeloaan
sumberdaya alam ini telah dibuat dalam bentuk tertulis berupa Peraturan Kampung
tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam Kampung.
Beberapa prosesi adat yang berkaitan dengan kelola
sumberdaya alam antara lain yaitu tuak
atau irau, yaitu ritual adat yang
dilakukan untuk ‘bersih kampung’. Prosesi ‘bersih kampung’ ini dimaksudkan agar buah-buahan berbunga merata dan sempurna
menjadi buah, madu lebah hutan berlimpah
dan kampung memperoleh kesejahteraan yang mencukupi. Prosesi ‘bersih kampung’
melalui adat tuak biasanya dilakukan
ketika terjadi wabah penyakit atau musim buah dan hasil panen padi, madu serta
hasil hutan lain dianggap kurang baik. Penyelenggaraannya dilakukan secara
bersamaan oleh komunitas Dayak Lebbo dari Kampung Merabu, Mapulu dan Panaan.
Selain ritual adat, pada komunitas Dayak Lebbo ini juga terdapat aturan untuk
melindungi satwa dan tumbuhan yang dianggap sebagai simbol adat. Hewan tersebut antara lain burung enggang, burung seset, triyan dan pelaki.
D.
Sumberdaya dan Kelembagaan
Sumberdaya manusia menjadi hal penting sebagai aset dalam pembangunan di daerah
pedalaman seperti halnya Kampung Merabu ini. Meski kesadaran penduduk untuk
menyekolahkan dan melanjutkan studi anak-anak mereka cukup tinggi, tetapi
dengan berbagai keterbatasan akses dan biaya menyebabkan sebagian besar
anak-anak di Kampung Merabu ini hanya sekolah hingga tamat Sekolah Dasar
saja. Terdapat satu sekolah yang juga
diperuntukkan bagi kampung tetangga Mapulu.
Kesadaran penduduk dalam hal kesehatan, kelihatannya
semakin meningkat. Hal ini bisa dirasakan semenjak berfungsinya Puskesmas
Pembantu (Pustu) yang ada di kampung. Sebulan sekali ibu-ibu aktif di tiap RT
untuk menimbang balita dan memeriksa kesehatan.
Sanitasi dan air bersih juga cukup baik dengan tersedianya air bersih
dari proyek pengadaan air bersih dari Pemerintah melalui Program Daerah
Pembangunan Masyarakat (PDPM). Sumber air bersih ini berasal dari mata air Sungai Nyadeng yang disalurkan
melalui pipa memakai panel surya.
Sip tulisannya, sangat informatif bagi wisatawan dan stakeholder. Ijin share pak.
BalasHapussilahkan...
BalasHapusKereeeeen dan sangat informatif artikelnya... Pak Franly Oley apa boleh minta no hp nya (Whats App) yang barangkali bisa di share untuk mendapatkan penjelasan lebih lanjut? Terima kasih sebelumnya. Semoga makin sukses kegiatan eko wisata nya... Salam hormat, Wanto Borneo
BalasHapus