Minggu, 14 Agustus 2016




TRIP TO BLOYOT CAVE

Nih.. sedikit video tentang perjalanan dari pemukiman Kampung Merabu menuju situs Liang Bloyot (Goa dengan peninggalan prasejarah art rock berusia ribuan tahun) dengan jarak -+ 4 km. Ya.. hitung hitung sambil olahraga biar badan tetap bugar. Tapi jangan kawatir, tracking ke Bloyot jalannya datar saja jadi aman untuk semua kalangan.

Kampung Merabu memang berada di tengah hutan. Tapi jangan kawatir, disini kami menyediakan intenet gratis bagi setiap pengunjung agar anda dapat tetap terhubung dengan keluarga da teman-teman.

Kalau ada yang berminat ke Merabu , hubungi lembaga pengelolanya "Kerima Puri"
kerimapuri@gmail.com
WA : 081215180772









Senin, 14 Maret 2016

Peraturan Kunjungan Merabu


KEPUTUSAN PERKUMPULAM  KERIMA’ PURI KAMPUNG MERABU
KECAMATAN KELAY KABUPATEN BERAU

NOMOR  01 TAHUN 2014

TENTANG

PENGATURAN KUNJUNGAN KE OBYEK WISATA KHUSUS HUTAN KAMPUNG MERABU

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
 KETUA PERKUMPULAN KERIMA’ PURI

                             



KETUA KERIMA’ PURI

MEMUTUSKAN :

Menetapkan    :    

Kesatu
:
Untuk setiap kunjungan wisatawan asing maupun domestik, penelitian dikenakan pungutan donasi.  Pungutan Donasi ini bertujuan untuk membantu upaya pelestarian Hutan Kampung yang tengah dilakukan oleh masyarakat Merabu.
Kedua
:
Setiap pengunjung wisatawan maupun peneliti asing dikenakan biaya donasi sebagai berikut :
1.    Wisatawan/peneliti asing sebesar Rp. 200,000- (dua ratus ribu rupiah) per orang/kunjungan
2.    Kegiatan penelitian yang melibatkan orang asing di wilayah Hutan Desa Kampung Merabu sebesar Rp. 1,500,000,- (satu juta lima ratus ribu rupiah).  Donasi ini diluar donasi untuk personil seperti di butir (1). 
3.    Wisatawan lokal secara sukarela berdasarkan kemampuannya.
Ketiga
:
Wisatawan atau pengunjung dikampung Merabu akan diinapkan di rumah penduduk.  Rumah tersebut harus dalam keadaan bersih dan mempunyai kamar mandi.  Dalam satu rumah hanya menampung maksimal 4 orang. 
·      Biaya menginap untuk satu rumah adalah Rp. 200,000/rumah/malam. 
·      Biaya makan sebesar Rp. 25,000/orang/makan disiapkan oleh pemilik rumah
Keempat
:
Setiap kunjungan wisata maupun penelitian akan disediakan pemandu lapangan, meskipun sudah membawa guide dari luar. Pemandu ini akan mendampingi selama 8 jam, dari jam 07.00 s/d 16.00.  Besar biaya pendamping lapangan adalah  sebagai berikut :
1.     Satu orang pendamping lapangan Rp. 100,000,-/hari, tanpa menginap di hutan. 
2.     Jika wisatawan menginap di hutan jasa pendampingnya adalah Rp. 150,000,-/orang/hari
3.     Jika barang bawaan tamu banyak ,maka tenaga pendamping yang dimaksud mempunyai tanggung jawab mengangkut barang seberat maksimal 10 kg, jika barang yang diangkat lebih dari 10 kg maka kelebihan berat barang yang diangkut akan diberikan tambahan biaya sebsar Rp. 15,000/kg.
4.     Jika pengunjung memerlukan pengangkut barang secara khusus  dikenakan biaya Rp. 15,000/kg.
5.     Jika pendamping lapangan bekerja lebih dari 8 jam/hari, maka akan diberikan uang lembur sebesar Rp. 15,000/jam
Kelima
:
Kerima’ Puri menyedian kendaraan mobil untuk menjemput atau mengantar wisatawan dengan biaya sebagai berikut :
1.     Untuk menjemput atau mengantar tamu dari Tanjung Redeb, biaya Rp, 1500,000,-  sekali antar/jemput.
2.     Untuk menjemput atau mengantar tamu dari Muara wahau, biaya sebesar Rp. 800,000,-  sekali antar/jemput
3.     Untuk menjemput atau mengantar tamu dari hutan lindung Wehea, biaya sebesar Rp. 1,500,000 sekali antar/jemput
Untuk Transportasi Sungai berupa perahu ketinting dengan biaya sebagai berikut :
1.     Penyebarangan sebesar Rp. 25,000/rit perahu dengan kapasitas maksimum 4 orang.
2.     Jika tamu membawa barang cukup banyak, dikenakan biaya menyeberangkan barang dan mengantarkan barang ke tempat menginap sebesar Rp. 50,000,-/rit perahu.
3.     Untuk mengantar ke Danau Nyadeng biaya Rp. 175,000 sekali antar, apabila menunggu diberikan tambahan biaya Rp. 25,000,-
4.     Untuk mengantar ke Panaan biaya Rp. 250,000,-
5.     Untuk mengantar melihat bekantan ke hulu Merapun biaya Rp. 250,000,-
Keenam
:
Wisatawan atau pengunjung yang berminat untuk menyelenggarakan kegiatan kesenian akan dikenakan biaya :
1.     Biaya makan bersama dengan seluruh masyarakat kampung Rp. 5,000,000,-/paket
2.     Biaya kesenian dan penyambutan Rp. 1,000,000,-
3.     Biaya penyiapan api unggun dan obor Rp. 250,000,-
Yang dimaksudkan biaya kesenian ini adalah, acara tari tradisional, menyanyi bersama yang melibatkan seluruh masyarakat dengan mengelilingi api unggun diwaktu malam hari.
Ketujuh
:
Lembaga Kerima’ Puri membuat program adopsi pohon bagi para wisatawan/pengunjung yang berminat.   Tarif adopsi pohon tersebut adalah sebagai berikut :
1.     Adopsi pohon besar dengan jenis yang dilindungi didalam hutan sebesar Rp. 1,500,000 per pohon/3 tahun.
2.     Adopsi pohon dengan menanam bibit pohon sebesar Rp. 150,000 per bibit/ tahun.
3.     Setiap pohon besar yang diadopsi oleh pengunjung/wisatwan akan dibuatkan papan informasi yang berisi tentang nama pohon, nama pengadopsi pohon.
4.     Setelah 3 tahun maka pengadopsi pohon akan dimintakan kembali biaya perawatan pohon tersebut sebesar Rp. 150,000/tahun
Kedelapan
:
Para wisatawan dan peneliti Asing yang memasuki Kampung Merabu telah mengurus semua dokumen perijinan dan keimigrasiannya, dan menyerahkan foto copy dokumen tersebut.



                   
Keputusan ini mulai berlaku pada sejak tanggal ditetapkan.


                                                                           Ditetapkan di Kampung Merabu
                                                                           Pada tanggal 23 Mei 2014
Ketua Lembaga Kerima’ Puri
 


                                                                          



                                                                                        A s r a n i
                                                                                      




Jumat, 15 Januari 2016

GAMBARAN UMUM KAMPUNG MERABU


A.     Biogeofisik Kawasan
Flora Fauna

Flora di kawasan Kampung Merabu beraneka ragam, banyak diantaranya merupakan endemic yang disebabkan faktor-faktor lokal seperti geologi, topografi dan iklim mikro setempat. Karakteristik utama formasi flora di kawasan ini yaitu hutan hujan dipterocarpa (dataran rendah dan dataran tinggi), hutan Fagaceae-Myrtaceae pegunungan menengah, hutan batu kapur dan hutan rawa. Di hulu sungai yang ketinggainnya lebih dari 700 m dijumpai ‘hutan lumut’ di puncak-puncak gunung. Di sepanjang tepi-tepi sungai sekitar perkampungan umumnya merupakan hutan sekunder bekas perladangan yang baru ditinggalkan ataupun sudah lama dan kembali menyerupai formasi klimaks.  Hutan-hutan dekat perkampungan lainnya yang tidak/belum digarap untuk perladangan sebagian besar bekas pembalakan dari perusahaan kayu maupun dari penduduk lokal untuk kebutuhan sendiri ataupun diperjualbelikan. Di beberapa tempat juga ditemui hutan sekunder bekas kebakaran yang didominasi formasi jenis pioner Macaranga.


Kawasan karst yang sangat terisolir dan memiliki hutan-hutan lebat yang masih belum dijelajahi secara mendalam, sudah barang tentu merupakan tempat bagi varietas-varietas ataupun jenis mamalia darat, avifauna (burung), amfibi dan reptile,  kupu-kupu dan ikhtiofauna (ikan). Pengetahuan masyarakat lokal mengenai tumbuhan dan binatang hutan bermanfaat dalam menyediakan informasi yang bernilai mengenai kebiasaan dan penyebaran terakhir binatang liar yang endemik di kawasan ini ataupun belum diketahui sama sekali. Di duga hutan karst batu kapur yang masih lebat ini menjadi tempat terakhir yang relatif ‘aman’ bagi kehidupan satwa liar. Tidak menutup kemungkinan beberapa spesies baru belum banyak dikenal dan teridentifikasi di daerah gua-gua dan celah batu kapur.

Fisiografi
Formasi geologi  yang terdapat di kawasan karst Berau-Kutim didominasi oleh struktur geologi alluvium, berikutnya disusun struktur geologi Alluvium, Basalt, Lime stone, Peat dan Sand Stone. Hasil dari ilustrasi Peta Rupa Bumi Indonesia (2003), memperlihatkan topografi kelas kelerengan lahan yang bervariasi dari Datar (0 – 8 %), Landai (8 – 15 %), Agak Curam (15 – 25 %), Curam (25 – 40 %), hingga Sangat Curam ( > 40 %).  Topografi datar banyak dijumpai di sepanjang sisi tepi sungai dan anak-anak sungainya. Sedangkan topografi paling ekstrem yaitu curam hingga sangat curam umumnya di hulu sungai di daerah perbukitan batu kapur.

Di Bagian hulu sungai, banyak dijumpai formasi-formasi batuan endapan (siltstone), paras (sandstone) dan lempung (claystone) dari zaman kapur. Formasi batuan zaman kapur ini terlihat jelas dari gua-gua dan batu dinding yang memanjang membelah membatasi antara perbatasan Berau dan Kutim yang dikenal sebagai Pegunungan Nyapa, Gunung Onyen, Gunung pelmuis dan Gunung Kulat. Banyak diantaranya mempunyai nama-nama lokal dan disebut dalam mitos-mitos penduduk setempat. Hulu-hulu sungai banyak ditemui  menuju gua dan celah batuan hingga di permukaan bawah.

Tanah

Jenis tanah yang terdapat di kawasan karst Berau-Kutim bervariasi dari jenis tanah Regosol – Kambisol – Regosol,  Kambisol – Podsolik – Litosol,  Kambisol – Podsolik – Regosol,  Podsolik – Kambisol – Regosol, dan Oksisol – Regosol. Berdasarkan sistem lahan, di wilayah Karts Berau Kutim berturut-turut sistem lahannya yaitu Honja, Pakalunai, Barong Tongkok, Bakunan dan Tambera. Jenis-jenis tanah tersebut umumnya sensitif terhadap pembukaan lahan  yang ekstrem dan dapat menyebabkan sedimentasi tinggi.

Tanah alluvial dari sedimentasi sungai banyak dijumpai pada sepanjang sempadan sungai-sungai besar yang ada di kawasan ini. Sebagian besar daerah aluvial di sempadan sungai dipergunakan oleh penduduk untuk kegiatan berladang dan perkebunan. Sisanya tanah-tanah subur di dataran rendah sebagian besar telah dikonversi untuk perkebunan kelapa sawit. Ciri penting tanah di derah kawasan karst ini adalah pH tanah yang tidak terlalu rendah keasamannya sebagaimana umumnya daerah Kalimantan. Nampaknya formasi batu kapur yang cukup dominan  dan mengalami pelapukan secara perlahan meningkatkan pH tanah dibanyak tempat di dataran rendah melalui sedimentasi dan resapan air hujan dari perbukitan batu kapur.




Iklim
Karakteristik iklim dalam kawasan karst Berau-Kutim adalah iklim hutan tropika humida dengan curah hujan yang terjadi di sepanjang tahun, sehingga terdapat perbedaan yang tidak begitu tegas antara musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan data BMKG Berau dan Kutai Timur 2000-2010, curah hujan rataan di daerah ini berkisar antara 1919 - 2500 mm per tahun dengan temperatur rata-rata 26oC. Perbedaan temperatur siang dan malam antara 5-7 oC. Curah hujan tertinggi biasanya terjadi pada bulan Januari hingga Maret, dan terendah pada Bulan Agustus hingga September. Sepanjang bulan dalam satu tahun selalu terdapat sekurang-kurangnya tujuh hari hujan. Semenjak tahun 2005 curah hujan meningkat di sepanjang tahun dan pada tahun 2008 hingga saat ini sering terjadi air sungai yang meluap menggenangi perkampungan. Terutama di daerah DAS Karangan, Bengalun dan hilir Kelay.

Saat musim-musim kering dengan curah hujan yang rendah, dipergunakan oleh penduduk setempat untuk kegiatan pembukaan perladangan dengan melakukan  pembakaran. Biasanya dilakukan pada akhir Juli hingga awal September. Sedangkan pada musim curah hujan yang tinggi dan sungai meluap banyak dipergunakan untuk mengeluarkan kayu-kayu dari tebangan di hulu-hulu sungai untuk dijual pada pembeli di hilir.


B.     Kewilayahan dan Sejarah

Kampung Merabu secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Kelay Kabupaten Berau. Sebelum dilakukan pemekaran tahun 2000, kampung ini masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau karena dahulu masuk dalam wilayah Kesultanan Sambaliung Kabupaten Berau. Secara kartografis, batas-batasnya adalah di sebelah Barat berbatasan dengan Kampung Merapun, Sebelah Timur berbatasan dengan Wilayah adat Mapulu-Tintang (Desa Karangan Dalam Kabupaten Kutai Timur), sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Kutai Timur, serta di sebelah Utara dengan Kampung Panaan. Di bagian sebelah Barat berbatas dengan Merapun terdapat perusahaan kayu PT Utama Damai Indah Timber (UDIT) dan perkebunan kelapa sawit yang luas di wilayah Merapun yaitu PT Yudha Wahana Abadi, PT Gunta Samba, dan PT Anugerah.

Gambar 1.  Peta Lokasi Kampung Merabu di dalam Wilayah Administratif Kecamatan Kelay



 


Nama Merabu, konon mulanya adalah Menanga Bu yang artinya muara sungai Bu karena dahulu lokasi pemukiman tepat di muara Sungai Bu yang saat ini terletak di hilir kampung. Hulu dari sungai Bu sendiri tidak jauh dari kampung di daerah yang disebut Sedepan Bu. Menurut sejarahnya, leluhur orang Merabu dahulu bermukim di gua-gua di hulu sungai. Lokasi pemukiman yang paling dikenal yaitu Gunung Kulat yang berbatasan dengan hulu Sungai Bengalun di perbatasan Berau-Kutai Timur. Dari Gunung Kulat mereka berpindah menyebar di bagian tengah Sungai Lesan antara lain ke Tukan Canong, kemudian berpindah lagi ke Beteran, lalu ke Muara Bu dan terakhir di Merabu hingga saat ini.

Luas kampung Merabu lebih kurang 12,000 ha, dan secara topografi terdiri dari kawasan dataran rendah di sempadan Sungai Lesan dan perbukitan batu kapur (karts) di bagian hulu anak Sungai Lesan. Di celah-celah antara gunung-gunung batu kapur (karst) ditemukan lembah yang  disebut penduduk setempat sebagai laruk dan rawa-rawa yang disebut pesu. Gua-gua di pegunungan batu kapur di Merabu selain dikenal dengan hasil sarang burung walet juga ditemukan beberapa peninggalan prasejarah berupa gambar-gambar di dinding gua dan kubur batu.

C.     Dayak Lebo

Nama Dayak Lebo, atau sering juga disebut Labu atau Lebu merupakan sebutan yang umum untuk menyebutkan jati diri mereka dari kelompok masyarakat Dayak Basap yang bermukim di hulu Lesan, Inaran, dan Karangan. Mereka menyebutkan identitas sebagai dayak lebbo, yang dianggap berbeda dari kelompok basap lain karena selain memiliki latar belakang sejarah dan bahasa yang berbeda, juga mereka dianggap lebih maju dibandingkan kelompok-kelompok yang disebutkan sebagai Dayak Basap.  Mereka telah mengenal pemukiman permanen dan tidak tinggal di gua-gua, mereka juga mengenal kesenian dan pakaian serta adat istiadat lain yang dimiliki masyarakat Melayu Berau dan Kutai.

Sebutan Dayak Lebbo berasal dari kata leppo atau lepau yang berarti pondok, rumah atau kampung. Kelihatannya mereka mengenal budaya tinggal menetap di pondok berkampung secara kolektif dari asimilasi dengan kelompok-kelompok dayak lain seperti Wehea dan Gaay yang berdekatan dengan pemukiman mereka. Dugaan lainnya yaitu asimilasi dengan kelompok-kelompok pengembara, prajurit dan tawanan perang dari berbagai kelompok suku yang menjadi bawahan dari bangsawan Kesultanan Berau dan Kutai yang ditempatkan dihulu-hulu sungai untuk menjaga gua sarang burung. Akibat kontrol kekuasan yang hilang setelah takluknya Kesultanan Berau (Sambaliung dan Gunung Tabur) serta Kesultanan Kutai ke tangan Belanda, mengakibatkan kelompok-kelompok tersebut terpisah dan membentuk komunitas tersendiri yang kemudian dikenal sebagai orang Dayak  Basap maupun Lebbo.

Masyarakat Dayak Lebo Kampung Merabu tengah berladang

Bagi kalangan orang Dayak Lebbo sendiri, sebutan sebagai orang Dayak Lebbo dianggap lebih memiliki makna yang lebih ‘manusiawi’ dibandingkan sebutan sebagai Dayak Baasap. Di kalangan orang Melayu Berau dan Kutai, sebutan sebagai orang Baasap konotasinya merendahkan dari para penghuni hutan di hulu-hulu sungai. Sebutan Basap identik dengan primitif, liar dan tidak berkampung dan hanya dijumpai di gua-gua sebagai pemukiman mereka. Orang-orang Melayu Kutai di pesisir Sangkulirang memiliki sebutan yang lebih netral dengan menyebut kelompok-kelompok masyarakat yang masih menetap di hulu sungai tersebut sebagai orang darat.

Menurut sejarahnya, banyak penutur dikalangan orang dayak Lebbo ini yang menyebutkan bahwa asal mereka dari Gunung Kulat di perbatasan Selatan Berau dengan Kutai. Setelah kekacauan akibat perang antara suku mulai mereda, mereka menyebar di dataran rendah di tepi hulu tepi sungai Lesan, Bengalun, Karangan dan Pengadan. Kelompok-kelompok dayak Basap yang menyebutkan diri sebagai Dayak Lebbo ini komunitasnya di Kabupaten Berau ditemui di Merapun, Merabu, Mapulu, Panaan, dan Meliyu. Di Kabupaten Kutai Timur di temui di Pemukiman KAT Karangan Seberang dan Muara Bulan (Baay). Di Tepian Langsat sendiri,  karena mereka telah lama berbaur dengan kelompok Melayu Kutai, tidak lagi disebut sebagai Dayak Lebbo atau Dayak Basap. Mereka telah menjadi orang Kutai. Demikian juga dengan di Keraitan, Tebangan Lembak dan Sekurau, akibat hegemoni sebutan Dayak Basap terlanjur melekat ke diri mereka sebutan sebagai Dayak Basap lebih dominan dibandingkan sebagai Dayak Lebbo meskipun telah lama pula mengenal pemukiman permanen dipondok-pondok ladang. 

Masyarakat di kampung Merabu yang merupakan bagian dari masyarakat Dayak Lebbo, masih memiliki hubungan sosial dan budaya yang erat dengan lingkungan sumberdaya alam di sekitarnya. Terkait dengan sumberdaya hutan, masyarakat meyakini bahwa  segala jenis sumberdaya alam dan hutan harus di manfaatkan secara arif dan bijaksana.  Pemanfaatannya dilakukan seperlunya dengan mempertimbangkan manfaat untuk generasi selanjutnya.  Aturan-aturan adat dalam pengeloaan sumberdaya alam ini telah dibuat dalam bentuk tertulis berupa Peraturan Kampung tentang Pengelolaan Sumberdaya Alam Kampung.

Beberapa prosesi adat yang berkaitan dengan kelola sumberdaya alam antara lain yaitu tuak atau irau, yaitu ritual adat yang dilakukan untuk ‘bersih kampung’. Prosesi ‘bersih kampung’  ini dimaksudkan  agar buah-buahan berbunga merata dan sempurna menjadi buah, madu lebah hutan  berlimpah dan kampung memperoleh kesejahteraan yang mencukupi. Prosesi ‘bersih kampung’ melalui adat tuak biasanya dilakukan ketika terjadi wabah penyakit atau musim buah dan hasil panen padi, madu serta hasil hutan lain dianggap kurang baik. Penyelenggaraannya dilakukan secara bersamaan oleh komunitas Dayak Lebbo dari Kampung Merabu, Mapulu dan Panaan. Selain ritual adat, pada komunitas Dayak Lebbo ini juga terdapat aturan untuk melindungi satwa dan tumbuhan yang dianggap sebagai simbol adat.  Hewan tersebut antara lain burung  enggang, burung seset, triyan dan pelaki.

D.     Sumberdaya dan Kelembagaan

Sumberdaya manusia menjadi hal penting  sebagai aset dalam pembangunan di daerah pedalaman seperti halnya Kampung Merabu ini. Meski kesadaran penduduk untuk menyekolahkan dan melanjutkan studi anak-anak mereka cukup tinggi, tetapi dengan berbagai keterbatasan akses dan biaya menyebabkan sebagian besar anak-anak di Kampung Merabu ini hanya sekolah hingga tamat Sekolah Dasar saja.  Terdapat satu sekolah yang juga diperuntukkan bagi kampung tetangga Mapulu.

Kesadaran penduduk dalam hal kesehatan, kelihatannya semakin meningkat. Hal ini bisa dirasakan semenjak berfungsinya Puskesmas Pembantu (Pustu) yang ada di kampung. Sebulan sekali ibu-ibu aktif di tiap RT untuk menimbang balita dan memeriksa kesehatan.  Sanitasi dan air bersih juga cukup baik dengan tersedianya air bersih dari proyek pengadaan air bersih dari Pemerintah melalui Program Daerah Pembangunan Masyarakat (PDPM). Sumber air bersih ini berasal dari mata air Sungai Nyadeng yang disalurkan melalui pipa memakai panel surya.

Kelembagaan yang ada di kampung meliputi dua hal yaitu lembaga formal yang diatur pemerintah seperti Pemerintah Kampung, Badan Perwakilan Kampung, dan Lembaga Permberdayaan Masyarakat, serta lembaga informal yang hanya diatur kampung seperti lembaga adat kampung, karang taruna, PKK, posyandu, kelompok tani dan arisan warga.